Gubernur akan Bicara Pariwisata Halal di Islamic Economic Days II

DR. TGH M Zaenul Majdi

MATARAM—Dinilai berhasil mengangkat pertumbuhan ekonomi NTB melalui pengembangan sektor kepariwisataannya. Gubernur NTB, DR. TGH M Zaenul Majdi, pada tanggal 8 – 11 Maret 2017 mendatang, diundang menjadi pembicara dalam seminar nasional “Islamic Economic Days II”, yang diselenggarakan oleh Organisasi Islamic Economics Forum (IsEF), serta didukung penuh Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI Depok-Jakarta.

Selain Gubernur NTB yang akan berbicara membawakan materi “pariwisata halal untuk pembangunan ekonomi Indonesia”, pihak panitia juga mengundang Bupati Lombok Utara, Dr. H. Najmul Ahyar SH, MH, dengan tema yang akan dibawakan yakni “Implementasi pariwisata halal untuk percepatan laju ekonomi daerah”.

“Kami dari organisasi Islamics Economics Forum (IsEF) akan melaksanakan serangkaian kegiatan bernama ”Islamic Economic Days II”, sebagai bentuk dan upaya menggali potensi industri halal Indonesia, demi meningkatkan perekonomian nasional,” kata Ketua Umum Islamic Economic Forum (IsEF), Darihan Mubarak, dalam press release yang diterima Radar Lombok, Selasa (10/1).

Menurut Darihan, belakangan ini Industri Halal berkembang pesat dibanyak negara di dunia, baik yang memiliki penduduk mayoritas muslim maupun minoritas, seperti Jepang, Taiwan, Tiongkok dan Thailand.

Trend konsumen halal lifestyle meningkat dan berkembang pesat. Bahkan berdasarkan hasil riset Reuters, belanja Muslim global untuk pangan saja
mencapai 1,2 triliun dolar AS pada 2014, dan diprediksi akan mencapai 1,58 triliun dolar AS pada 2020.

Pasar halal global dan sektor gaya hidup halal, termasuk wisata, fashion, media dan rekreasi, obat-obatan, serta kosmetik mencapai 1,8 triliun dolar AS pada 2014. Nilainya diproyeksikan akan naik menjadi 2,6 triliun dolar AS pada 2020.

Namun meski begitu, menurut Global Islamic Economic Report 2015-2016,
Indonesia saat ini masih menduduki posisi kesepuluh dalam industri dan pasar halal dunia. Dimana peringkat pertama diduduki oleh negeri tetangga, Malaysia, kemudian disusul UEA (Uni Emirat Arab), Bahrain, Saudi Arabia, Pakistan, Oman, Kuwait, Qatar, Jordan, baru Indonesia.

“Malaysia sudah didepan Indonesia dalam pengembangan industri halal. Walaupun sebenarnya Indonesia memiliki potensi yang lebih besar daripada Malaysia. Apalagi dengan populasi Muslim 80 % hingga 85 % dari 250 juta jiwa, Indonesia selayaknya tak hanya jadi pasar. Akan tetapi juga jadi pemain utama yaitu produsen,” tutur Darihan.

Lahirnya Undang-Undang Nomor 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk
Halal (UU JPH) sambung Darihan, ternyata masih belum diimplementasikan dengan optimal. Karena Indonesia masih belum siap, baik dari segi persiapan infrastruktur kelembagaan, peraturan turunan, sumber daya manusia, serta daya dukung lainnya seperti aturan tentang pembiayaan, persyaratan pendirian Lembaga Produk Halal (LPH) serta teknologi yang memadai.

Tujuan kegiatan ini papar Darihan, yakni untuk memperkuat pemahaman masyarakat umum mengenai ekonomi Islam, sehingga mampu berkontribusi untuk Indonesia. Selain juga dapat mengoptimalkan pengembangan industri halal di Indonesia, sehingga mampu bersaing ditingkat Internasional.

“Terpenting, kegiatan ini sekaligus dapat mensosialisasikan tentang potensi pengembangan ekonomi Islam di Indonesia, dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Juga dapat menggali potensi mahasiswa dalam keilmuan ekonomi Islam,” harap Darihan.

Kegiatan akan diikuti sekitar 600 peserta tingkat nasional, yang terdiri dari 450 mahasiswa dan 150 masyarakat umum. Baik itu dari pihak akademisi, praktisi, dan lainnya. “Selain seminar nasional sebagai inti kegiatan, Islamic Economic Days II juga akan menggelar berbagai perlombaan, seperti Innovative Challenge, D’ Battle Of Islamic Economic, Muslimpreneur Competition, dan Young Design Muslim,” beber Darihan.

Sedangkan untuk pembicara dalam seminar nasional, selain Gubernur NTB dan Bupati KLU, pihak panitia juga mengundang Menteri Pariwisata RI, DR Arief Yahya, sebagai keynote speaker, dan juga sejumlah pembicara seperti Dr. Ing Ilham Akbar Habibie, MBA (Ketua Umum ISMI), Prof. Dr. Bambang Sudibyo (Ketua BAZNAS), dan Sigit Pramono, SE, Ak, MSACC (Ketua STEI SEBI). (gt)

Berikan Komentar Anda:

Komentar