Penelitian Prof Muhammad Sarjan dari Berbagai Negara di Dunia untuk NTB

Inginkan Petani NTB Seperti di Selandia Baru

PENGABDIAN: Prof H Muhammad Sarjan (kanan) bersama Bupati KLU H Najmul Akhyar saat menunjukkan keberhasilan uji coba penanaman strawberry di dataran medium, di Desa Santong, Kayangan, Lombok Utara belum lama ini (dok/Radar Lombok)

Mengabdikan diri untuk kemajuan pertanian di Provinsi NTB menjadi pilihan hidup Prof Dr Ir H. Muhammad Sarjan, M.Agr.CP. Bergelut di dunia pertanian sudah menjadi pilihannya ketika masuk menjadi mahasiswa Fakultas Pertanian  Universitas Mataram dan meraih gelar sarjana pertanian pada tahun 1986.

 

 


LUkMANUL HAKIM – MATARAM


 

Keinginan untuk melihat dunia pertanian di Provinsi NTB ini maju, Prof Sarjan buktikan dengan turun langsung membina dan mendampingi para petani untuk implementasikan berbagai hasil temuan dan penelitian yang pernah diraih. Mulai dari cara bercocok tanam yang baik, perawatan tanaman agar bisa membasmi berbagai serangan hama penyakit terhadap tanaman, hingga memberikan tanaman alternatif apa saja yang memiliki nilai tambah bagi para petani.

Pria kelahiran Kelayu, Kabupaten Lombok Timur, 6 April 1962 ini mengaku prihatin dengan kondisi petani di Provinsi NTB yang masih jauh dari sejahtera. Petani di NTB kalah jauh dari petani   di provinsi lain sebut saja Bali yang mendapatkan Nilai Tukar Petani (NTP) selalu diatas 100 yang menjadi salah satu indikator penilaian petani sejahtera. Sementara di NTB, masih kondisinya cukup memprihatinkan, yang disebabkan masih minimnya pengetahuan petani terkait cara bercocok tanam yang baik hingga sentuhan teknologi pertanian yang masih jauh dari harapan.

Sarjan bermimpi dan menginginkan petani di NTB bisa seperti petani di  Selandia Baru yang kehidupan petaninya sangat sejahtera. Hal tersebut tentunya tak luput dari sentuhan teknologi serta harga jual produksi pertanian yang bagus, sehingga memberi nilai ekonomi yang bagus bagi para petani.  "Di New Zealand itu petaninya yang justru kaya -kaya. Kita ingin petani di NTB bisa seperti itu, karena potensi lahan di NTB sangat luar biasa dibandingkan dengan daerah lainnya," kata Sarjan.

Berlatar belakang dengan kepakaran ilmu "Biological Control of Insect Pest", alumnus Doktoral di University of Adelaide-Australia tahun 2003 ini, gencar mencarikan solusi bagi petani. Seperti yang dilakukannya secara intens belasan tahun belakangan ini, bagaimana caranya agar petani kentang di Sembalun yang sangat bergantung dari benih kentang atlantik varietas dari Kanada. Kentang varietas Atlantik ini  benihnya hanya  bisa didapatkan dari Kanada. Akibatnya petani binaan dari salah satu perusahaan nasional tersebut sangat bergantung dari pasokan bibit kentang atlantis dari Kanada.

 Melihat kondisi tersebut, Prof Sarjan kemudian bersama timnya mulai melakukan penelitian kentang jenis apa yang bisa ditanam di Sembalun, Lombok Timur dan memiliki kualitas yang sama dengan kentang kualitas varietas Atlantis.

Pelan tapi pasti, guru besar Fakultas Pertanian, Unram ini akhirnya berhasil melakukan uji coba penanaman kentang yang kualitasnya hampir sama dengan kualitas kentang Atlantis. Bahkan kini kentang tersebut sudah dilakukan uji coba penanaman di lahan medium dengan ketinggian 450 – 750 meter diatas permukaan air laut (Mdpl).

Hasilnya cukup mengemberikan, ternyata benih kentang ditanam di dataran medium berhasil dan sukses.  Petani yang berada di ketinggian medium bisaa menanam benih kentang varietas yang kualitasnya sama dengan kentang Atlantis.

 Selain melakukan ujicoba tanaman kentang di dataran ketinggian medium, Prof Sarjan juga melakukan uji coba penanaman  strawberry di ketinggian medium. Dan berhasil mendapatkan hasil yang sempurna. Kini strawberry di dataran medium sudah mulai ditanam secara massal di Santong, Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Bahkan rencananya akan dikembangkan di dataran medium   di Pulau Sumbawa.

 Tak berhenti sama disitu, mantan Dekan Fakultas Pertanian Unram ini juga terus melakukan penelitian terkait penanggulangan hama penyakit di tanaman padi dan hortikultura dan tanaman lainnya. "Banyak hal yang harus kita benahi di petani NTB agar mendapatkan nilai tambah sehingga kesejahteraannya membaik," ujar mantan conslutant on Indonesia National project of integrated for Estate Crop at FAO, Rome, Italia tahun 1995 ini.(*)

Berikan Komentar Anda:

Komentar